Sabtu, 25 Februari 2017

Asal Usul Wayang Kulit


Wayang adalah salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang ini meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni sastra, seni lukis, seni pahat, seni tutur, dan juga seni perlambang. Budaya wayang yang terus berkembang dari zaman ke zaman ini  juga merupakan media penerangan, sebagai dakwah, sarana pendidikan, sarana hiburan, sarana pemahaman filsafat, dan serta hiburan. Dari hasil penelitian para ahli sejarah kebudayaan bahwa budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia ini khususnya di Pulau Jawa. Karna keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum masuknya agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Cerita wayang yang populer dimasyarakat masa kini adalah merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata dari kedua induk cerita itu maka pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya cerita pada wayang kulit tersebut agar menyatu dengan falsafah asli Indonesia.

Dengan penyesuaian konsep filsafat ini akan menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Pulau Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan kulit. Dewa dalam pewayangan bukan lagi salah satu sesuatu yang bebas dari salah tetapi melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, akan tetapi kadang-kadang bertindak keliru dan bisa juga jadi khilaf. Ada hadirnya tokoh panakawan dalam pewayangan sengaja diciptakan para budayawan In­donesia untuk memperkuat konsep filsafat bahwa didunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik dan yang benar-benar jahat. Bahwa setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.

Dalam cerita disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel pada tahun 1897, ahli sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau yang menunjukkan keyakinannya bahwa wayang ini merupakan pertunjukan asli Jawa. Sebagaimana pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah walulang inukir yaitu kulit yang diukir dan dilihat bayangannya pada kelir. Demikian, wayang yang dimaksud tentu adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang.

Asal-usul wayang ini di dunia ada dua berpendapat. Pertama, bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan juga ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan salah satu hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Diantara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt. Karna alasan mereka cukup kuat di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia ini, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan ini, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan juga tidak ada di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan ini semuanya berasal dari bahasa Jawa yaitu Kuna, dan tidak ada bahasa lain bukan bahasa lain. Kedua, berpendapat menduga wayang berasal dari India ini yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain ialah  Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Karna sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris di negeri Eropa yang pernah menjajah Negara India.
Namun, sejak tahun 1950 buku-buku pe­wayangan sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa di Indonesia, dan tidak ada sama sekali tidak yang diimpor dari negara lain.

Budaya wayang kulit diperkirakan sudah lahir di Indo­nesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan pada tahun 976 -1012, yakni ketika kerajaan di Jawa Timur sedang makmur-makmur­nya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia diabad X. Pada naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung tahun 989-910 yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga In­dia yaitu Walmiki. Selanjutnya para pujangga Jawa tidak akan lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna saja akan tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya. Contohnya saja karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin yang juga merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan ini lain yang lebih nyata bedanya dengan cerita asli yang versi In­dia adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri.

Load disqus comments

0 komentar